Rabu, 30 Desember 2015

Coming Home

Pengarang: Sefryana Khairil
Penerbit: GagasMedia
Tahun: 2011
Tebal: 314 halaman

Hidup sendiri ternyata lebih gampang diucapkan ketimbang dijalani.

Mencari orang untuk dicintai sepenuh hati juga tak kalah rumitnya.

Tapi, tak ada yang lebih sulit daripada jatuh cinta kepada orang yang pernah membuatmu bersumpah tak akan pernah mencintai siapa pun lagi. Orang yang tak ingin lagi kau temui seumur hidup. Orang yang dulu pernah menduakan cintamu.

Orang yang bersamamu pernah bersumpah di hadapan Tuhan akan saling mencintai selamanya....

Ya, dialah orang yang kumaksud.

Dia yang kusebut sebagai ‘mantan suamiku’.

* * *

Wow, ini pertama kalinya saya membaca novel yang sebenarnya bukan jangkauan umur saya, mengingat topiknya adalah rumah tangga. Selain itu, tidak terbiasa juga dengan gaya bahasa sang pengarang di mana dalam kata-kata yang tertulis ada maksud tersirat.

Novel Coming Home ini menceritakan tentang pernikahan Amira dan Rayhan yang kandas di tahun ketiga pernikahan mereka, karena adanya pihak ketiga. Wanita bernama Elsa. Rayhan menceraikan Amira demi menikahi Elsa yang terlanjur hamil. Hati Amira hancur, dan membekukan hatinya dari lelaki manapun.

5 tahun setelah perceraian, Elsa meninggal, Rayhan pindah ke Yogya bersama Kirana (Nana)—buah hatinya dan Elsa. Dan, Amira dan Rayhan bertemu. Amira sebagai guru TK, Rayhan sebagai orangtua Nana yang bersekolah di TK tempat Amira mengajar. Pertemuan itu canggung, dan kembali membangkitkan rasa bersalah Rayhan yang telah meninggalkan Amira.


Mereka terjebak dalam perasaan yang sama, tapi masing-masing ragu mengakui dan mempercayainya. Amira yang masih takut dikhianati, dan Rayhan yang dengan rasa bersalahnya masih menyembunyikan kerinduannya pada Amira.


* * *

Sweet cover. Lagi-lagi, GagasMedia membuat saya berdecak kagum.
Di cover depan ada gambar sarang burung yang kosong dan sedikit berantakan, sementara di bagian paperback ada gambar sarang burung telah tertata rapi dan ada rumah di dalamnya. Benar-benar menggambarkan rumah tangga yang hancur dan terjalin kembali.

Permainan emosi benar-benar ditonjolkan di sini. Kebimbangan Amira, rasa bersalah Rayhan yang semakin memuncak, rasa sayang Amira pada Nana, dan kerinduan Rayhan akan Amira di sisinya.

Masalahnya sudah terlihat, inti cerita sudah bisa ditebak, jadi yang dipaparkan adalah bagaimana mencapai solusi untuk menyelesaikan masalah tanpa menjadikannya cerita yang biasa-biasa saja. Dan, menurut saya, Sefryana Khairil berhasil. Saya turut merasakan bagaimana dalamnya rasa bersalah Rayhan, betapa kalutnya hati Amira, dan betapa dalamnya cinta mereka berdua sebenarnya.

Dan... oh ya, setting tempat! Settingya berganti dengan cepat. Kadang ada 2 halaman yang menceritakan 2 kejadian yang terjadi singkat. Kadang hanya untuk menggambarkan perasaan masing-masing tokoh, membuat saya kadang agak rancu dengan latar waktu dan tempatnya.


Rate: 4/5



0 comments:

Posting Komentar

Blog Template by SuckMyLolly.com