Minggu, 22 Juli 2012

Melodia (Keisha Deisra)


Sinopsis:

OK... Just behave. Think about it later. Dea mengedikkan bahunya (sok) gak peduli. Lalu meneguk air putih, sampai habis. Hal yang banyak dilakukan orang kalau sedang panik.. seperti dirinya saat ini. Dirinya juga gak mungkin bilang ke Angga, merengek-rengek ke cowoknya supaya mampir ke butik Valentino untuk beli couture—hal yang mungkin dilakukan sama spoiled girl macam Tiff.
“Sudah siap melihat Tunnel Dell'amore?”

Deandra Maia Rahdian
Dirinya memang hanya satu. Dea yg smart dijuluki ice princess oleh Rhea,sahabatnya: ‘hangat’ untuk insiders, dan ‘dingin’ untuk outsiders. Orang-orang menyebutnya sebagai The Living Athena. Dirinya Dea untuk banyak orang, Maia untuk pangeran masa kecilnya, dan Andra untuk seseorang baru dalam hidupnya.

Airlangga Dmitri Mahata
Angga, tipe idealis untuk cowok 20 tahun—lurus, realistis, mempunyai visi hidup yang kuat.. dan kaku. Beberapa tahun terakhir ia hidup di balik bayang-bayang yang menodai sejarah hidupnya. Dan Angga memutuskan untuk berdiri lagi.

Keduanya seperti dua bongkah es raksasa yang berdiri berdampingan. Kisah mereka dimulai dari malam prom, hingga perjalanan ke Italia dan Bali yang menentukan titik awal dari perubahan.. atau justru titik akhir dari segala-nya?


Review:

Deandra, atau Dea, adalah sosok yang cool layaknya ice princess. Banyak cowok mengagumi tapi tak mampu mendekati. Takut ‘jatuh’ saat di samping Dea, begitu penjelasan Rhea dan Ares, 2 sahabat Dea yang kenal cewek itu luar-dalam.

Kemudian, Dea bertemu seorang cowok di sebuah club dan langsung tertarik pada sosoknya. Dea mesem-mesem, Rhea seneng karena finally Dea suka sama cowok juga, sementara Ares diam dan tidak tertarik (awalnya saya kira emang gitu personalitynya, secara dia cowok ya jadi gak tertarik sama cinta-cintaan heboh ala cewek, tapi.....)


“‘Change, we believe in’ dan ‘Yes, we can’ itu gak bisa dipisahin. Kalau kita percaya kita bisa berubah, kita juga harus percaya semua itu bisa berhasil dilakukan.” (hlm.16)


Dea masih menyimpan figur sosok itu, sampai ketika ia bertemu lagi dengan cowok itu di sebuah konser. Cowok bernama Angga itu adalah vokalis band. Tapi Dea harus berhenti berharap sampai disitu karna ternyata Angga adalah pacarnya Tiffany, musuhnya di SMA. Usut punya usut, ternyata Tiffany dan Dea udah lama perang dingin alias nggak akur sejak masih kecil. Tahu cowok yang dikaguminya adalah pacar sang musuh, Dea berusaha melupakan tapi... namanya udah terlanjur jatuh cinta, ya pasti susah.

Di lain pihak, Angga rupanya tertarik juga dengan Dea. Sosoknya tampak elegan dan misterius di mata Angga. Tapi ia tahu, mendekati Dea di saat ada Tiffany di sampingnya adalah malapetaka. Si nona kaya dan angkuh itu nggak akan biarin itu terjadi.

Ketika perasaan Dea masih belum tertata rapi, ia dikejutkan kenyataan bahwa Arsya, sahabat masa kecilnya, datang dari Belanda. Membawa satu misi yang disimpannya sejak kecil: menjadikan Dea miliknya.

Kemudian, prom night. Ares, nggak disangka, sepanjang pesta berduaan bersama Tiffany. Dea dan Rhea marah—apalagi status Tiffany yang adalah pacar Angga. Perasaan Dea yang masih kalut tambah semliwer (duh bahasa apa ini) karena Angga tahu-tahu datang dan menolongnya saat ia hampir pingsan di depan pintu ballroom. Angga mengantarnya pulang, dan membuahkan kesan tersendiri buat Dea.

Permasalahannya dengan Ares yang mempertaruhkan persahabatannya belum jelas, datang lagi seseorang dari negeri Belanda, lagi, yang menawarkan sejuta kejutan. Dea mungkin tidak mengenalnya, tapi seseorang itu tahu benar bagaimana menggunakan Dea untuk menjatuhkan seseorang yang dibencinya.


“Kalau kita gak pernah berani melenceng sedikit dari jalan lurus kita, kita akan selalu terkungkung dalam jiwa yang sama. Tidak punya perbedaan untuk membandingkan mana yang benar dan mana yang salah.” (hlm.124)


Pendapat saya... Novel ini kerasa ‘Sitta Karina banget’.

Penggunaan bahasa-bahasa asing, minimal setiap halaman ada bahasa Inggrisnya. Tokoh cowok dan cewek yang tajir berat, punya ‘nama’, dan gaul. Tokoh antagonis yang menyimpan dendam diam-diam. Nama merk yang berseliweran (kadang saya berpikir, sekali-dua kali boleh ya ngasi tau outfit apa yang dipake, tapi kalo setiap kali si tokoh pergi haruskah dijelaskan outfitnya dari atas sampe bawah? Aksesoris siapa, baju beli dimana, dan sepatu koleksi siapa? Terlalu...). Bepergian ke luar negeri.

Selain itu, ada banyak hal yang kurang dijelaskan di awal. Semisalnya, gimana masa kecil Dea, Arsya, dan Tiffany? Itu kurang dijelaskan di awal-awalnya. Trus, gimana ceritanya sampai Arsya yang katanya lagi ada Belanda tau-tau nongol di saat Dea lagi jogging pagi-pagi? Gimana pula Tiffany dulu ketemu Angga? Apakah dunia sebegitu kecilnya sampe-sampe semua orang bertemu seperti ada tali yang menghubungkan mereka?

Dan, endingnya pun menyimpan ketidakjelasn. Misalnya—spoiler!—gimana kelanjutan hidup Tiffany, geng black mafia ayahnya, dan Ernest? Terus, kenapa tiba-tiba Ares jadi pemaaf padahal sebelumnya dia dendam mati-matian sama Angga? Agak... nggak masuk di akal.

Oke, saya memang nggak menaruh ekspektasi yang tinggi, karena ini novel debut. Keisha bisa jadi penulis yang lebih baik kok, asal dia nggak terlalu terpaku sama Sitta Karina yang usut punya usut ternyata emang dia ngefans. Buktinya, gaya penulisannya saya nikmati, di luar segala macam kemiripannya dengan Sitta Karina.

Well, menanti untuk buku keduanya :)



My Rating:


Judul : Melodia
Penulis : Keshia Deisra
Penerbit : Terrant Books
Tebal : 320 halaman
ISBN : 979-3750-42-1


Rgds,


2 comments:

Peri Hutan mengatakan...

salam kenal Victoria :)

Sama! waktu pertama kali baca buku ini Sitta Karina banget, secara aku ngefans sama karya2nya jadi terasa familier banget. yah semoga saja kedepannya penulis bisa menemukan gaya-nya sendiri :)

Viktoria Mardhika mengatakan...

Salam kenal juga :)

Iya, semoga dia lepas dari gaya Sitta Karina. Lama-lama ke belakang suka bikin gak nyaman juga bacanya. Terlalu mirip

Posting Komentar

Blog Template by SuckMyLolly.com